Kay Rala Xanana Gusmao, Perdana Menteri Timor-Timur, membuat saya takjub di Selasa (13/7) pagi, sekitar pukul 06.00 WIB. Mengenakan baju putih bergaris lengan panjang, celana kain coklat, dan sepatu kets putih, saya melihat dirinya tak risih ataupun jijik duduk di pinggir kali penuh sampah.
Saya melihat Xanana dengan aktifitasnya tersebut dari gambar berita yang ditayangkan Televisao de Timor Leste (TVTL), dalam program berita Telejornal, yang menyampaikan gambar berita luar biasa itu, bagi saya. Saya tidak tahu bahasa apa yang digunakan oleh TVTL. Mungkin bahasa Tetum sebagai bahasa daerah Timor Leste, atau bahasa Portu. Entahlah. Saya hanya mengerti gambar yang ditayangkan stasiun televisi tersebut. Sangat mengerti, dan harus berdecak kagum untuk sosok Xanana.
Betapa tidak. Sorotan kamera peliput berita menyorot sosok Xanana yang berdialog dengan warganya, saat melihat dari dekat perbaikan jalan dan penyumbatan kali oleh sampah, di suatu daerah. Dialognya mungkin sudah biasa kita lihat, seperti yang dilakukan oleh para presiden dengan rakyatnya. Tapi sumpah, dialog yang dilakukan orang nomor satu di Timor Leste itu bukan dialog biasa.
Mungkin anda bingung dan bertanya : kok situ tau itu bukan dialog biasa????….wong situ ndak bisa bahasa mereka, kok….
Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan ‘menggambarkan dialog’ yang saya tonton kepada anda.
Xanana Gusmao disorot kamera sedang duduk di pinggir kali berair coklat keruh yang tersumbat. Dengan santai dan tak takut kotor, ia duduk pada semen yang menjadi pembatas kali. Tidak terlihat tangan-tangan saling berkaitan dari para pasukan keamanan, untuk melindungi sosok Xanana. Bahkan, penduduk ramai berada di dekatnya, dengan jarak tak lebih dari dua meter. Hanya terlihat dua orang berkacamata hitam dengan tubuh kekar, yang berdiri manis di belakang Xanana, berbaur dengan masyarakat. Pemandangan yang tak lazim di negara seperti Amerika bahkan Indonesia, yang memberikan pengawalan super duper ketat bagi kepala negaranya.
Lelaki berjanggut itupun tampak santai menghisap dalam asap rokoknya, di bibir kali. Sesekali kepalanya menoleh kiri dan kanan, memperhatikan sampah-sampah plastik tergenang yang dibawa air dari hulu. Ia juga mengarahkan dua orang penduduk yang menaikkan sampah-sampah dari kali, di pintu saluran air menuju jembatan.
Tayangan gambar program berita tersebut yang membuat saya semakin angkat topi pada Xanana Gusmao adalah, tempelan koyo di leher belakang bagian kiri. Koyo tersebut terlihat jelas saat wartawan TVTL mewawancarainya.
Sepengetahuan saya, orang yang memakai koyo identik sedang sakit. Jika benar, ini menunjukkan Xanana Gusmao sangat peduli sekali dengan kondisi masyarakat dan negaranya, tanpa memperdulikan kondisi dirinya sendiri.
Salut untuk Xanana Gusmao. Saya jadi ingin bertemu beliau dan mengobrol akrab. Duduk santai di beranda rumahnya, menikmati segelas kopi panas seraya menyantap kudapan. Bertanya pandangannya tentang hidup dan arti kekuasaan, mimpi-mimpinya yang belum terwujud, hal-hal yang membuat dirinya tertawa dan menangis, ah….semoga….
Sumber: Kompasiana




Comments
…..yang terpenting bukan hanya "bagaimana belajar sejarah", tetapi "bagaimana belajar dari sejarah"…
SEPULUH tahun silam, Timor Timur memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara baru. Sebuah transformasi dari wilayah yang paling dimanjakan Indonesia, menjadi negara yang paling ditelantarkan dunia.
KETIKA saya masih kuliah tahun 1990, beberapa teman saya yang mengambil jurusan ilmu antropologi ikut sebuah penelitian sosial ke Timor Timur. Ketika mereka selesai dan pulang, saya bertanya banyak tentang wilayah itu yang belum pernah saya kunjungi dan tidak banyak saya ketahui. Jawaban yang saya dengar cukup mengagetkan. Saya sulit percaya meski akhirnya saya bisa yakin tentang kesan teman-teman saya yang meneliti di Timor Timur.
“Jaman Portugis berkuasa, penduduk asli tidak boleh menginjak aspal jalan”, kata teman saya tentang keadaan saya. Artinya bukan karena aspalnya masih meleleh sehingga belum boleh diinjak atau digunakan. Tapi ini simbol diskriminasi yang artinya, Indonesia lebih baik dan lebih banyak memberikan sesuatu kepada rakyat Timor Timur, dibanding Portugal. “Lho? Indonesia ‘kan sudah membunuhi 200 ribu jiwa selama 27 tahun di wilayah itu?”, seperti gembar gembor yang selalu dihembus media barat yang anti Indonesia. Lalu berapa nyawa juga yang lenyap selama 400 tahun lebih kekuasaan Portugal di Timor Timur?” Silahkan ambil kalkulator dan buka-buka buku sejarah.
Lalu siapa sebenarnya yang memiliki dan punya hak menguasai Timor Timur? Mengapa ketika Indonesia masuk ke wilayah itu, sebagian besar negara barat dan konco-konconya menentangnya? Dan menganggap Indonesia sebagai “pembunuh”? Sementara Portugal dianggap anak manis? Padahal mereka tidak banyak berbuat banyak memajukan wilayah itu? Berapa lulusan akademi yang dihasilkan Portugal selama menjajah Timor Timur? Yang dikenal orang cuma Ir. Mario Carascalao, yang kemudian menjadi gubernur di sana. Berapa kilometer jalan yang dibuat oleh Portugal? Begitu merananya wilayah itu dibawah Portugal, sampai-sampai tidak dilirik oleh negara manapun. Bahkan Soekarno tidak pernah mengutak-atik wilayah itu selama berkuasa, juga Soeharto selama sepuluh tahun pertama masa pemerintahannya, tak punya ambisi territorial.
Dunia dibentuk dan dikendalikan oleh “survival of the fittest” , sebuah istilah mekanis untuk menggambarkan siapa yang kuat dia yang menang. Negara-negara kuat boleh sesuka hatinya berbuat semaunya kepada bangsa yang lemah. Amerika bebas membunuhi orang Vietnam, dari bayi sampai orang tua. Tak pernah dituntut apapun. Mereka suka-suka membasmi rakyat Irak, tanpa bersalah. Padahal orang Vietnam dan Irak, tak pernah menyerang Amerika, apalagi membunuh satu nyawa pun di Amerika. Tetapi sebaliknya, jangan coba-coba orang dari negara-negara lemah melukai seekor hewan pun milik bangsa dan negara kuat, pasti akan geger.
Begitupun ketika tentara Sekutu mengalahkan Nazi Jerman, mereka mengadili para perwira Nazi dengan menghukum mati mereka di Nurenberg. “Kalian mengadili kami karena kalian menang perang!”, kata seorang perwira yang diadili.
Di Timor Timur pun begitu, tak ada lembaga kemanusiaan yang mencoba menuntut Portugal atas kekejaman selama 400 tahun lebih menjajah wilayah itu, tetapi sebaliknya banyak tokoh dan perwira Indonesia siap menghadapi penangkapan dan pengadilan, bila mereka berada di luar Indonesia. Setiap kesalahan Indonesia selalu diungkit-ungkit, tetapi tidak pernah hal itu diberlakukan untuk Portugal. Ini sebuah ilustrasi yang tidak adil dan terjadi di depan mata kita.
Secara sejarah, Timor Timur adalah bagian dari Kesultanan Ternate. “Wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate pun meliputi Timor Timur sekarang. Ini ditandai dengan wali kuasa Kesultanan Ternate yang ditempatkan di daerah itu”, kata Sultan Ternate ke-48 Drs. Moedaffar Sjah, BcHk. Dulunya, Kesultanan Ternate sangat luas pada masa Sultan Kaicil Mashur Malamio (1257-1277), membentang dari Mindanao (Filipina) sampai wilayah Manggarai, Flores. Ketika Portugal kalah perang di kepulauan Maluku tahun 1522, si pencundang itu seenaknya menduduki wilayah yang sekarang disebut Timor Timur. Saat itu daerah tersebut merupakan wilayah tak bertuan. Artinya bukan milik Portugal maupun Belanda. “Jadi secara hukum Portugal tak punya hak”, kata Sultan Moedaffar. Lalu, kenapa didiamkan saja? Karena setelah sultan-sultan setelah itu mengabaikan Timor Timur serta wilayah lainnya. Apalagi timbul masalah baru dengan datangnya Belanda, yang kemudian menjadi ‘trouble maker’.
Sejak 17 Agustus 1945, semua kerajaan yang ada di nusantara melebur menjadi sebuah negara baru. Artinya, negara baru inilah yang menjadi pemilik sah Timor Timur. Menurut Sultan Moedaffar, Indonesia seharusnya mengklaim Timor Timur berdasarkan pada historisch recht atau ketentuan yang didasarkan fakta sejarah. Bukan segi politis seperti yang diklaim oleh Portugal selama ini. Jadi pengambilalihan wilayah itu ke dalam wilayah Indonesia tahun 1975, sesuai dengan bahasa propaganda Orde Baru, “kembalinya anak yang hilang”. Pada September1974, Presiden Soeharto mengajak Perdana Menteri Australia Gough Whitlam datang ke dataran tinggi Dieng, sebuah tempat wisata bernuansa mistik, untuk membicarakan pengambilalihan wilayah koloni Portugal itu ke dalam Indonesia.
Keputusan Presiden BJ Habibie yang memberikan pilihan bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri pada Januari 1999, sangat mengejutkan semua orang, termasuk Xanana Gusmao yang sedang menjalani tahanan di Jakarta. Bagi Habibie, Timor Timur selalu membawa masalah bagi Indonesia selama seperempat abad dalam pergaulan internasional. Mirip seperti judul buku yang ditulis oleh Ali Alatas, menteri luar negeri dan sekaligus advokat paling tangguh membela Indonesia soal Timor Timur di panggung dunia, “kerikil dalam sepatu”.
Pada tahun 1991, Presiden Soeharto selalu membawa peta Indonesia untuk menjelaskan masalah Timor Timur kepada kepala negara yang dia temui di mana saja. Pernah ketika seorang presiden dari jajahan Portugal bernama Guinea Bissau minta bertemu Soeharto. Dan peta pun dibuka lalu diperlihatkan oleh Soeharto kepada tamunya, bahwa Timor adalah pulau kecil di Indonesia, dan setengahnya adalah wilayah Timor Timur. Tamunya pun manggut-manggut.
Pernah ada kejadian menarik yang dialami Indonesia soal Timor Timur. ketika meletus perang terbuka antara Inggris dan Argentina memperebut- kan gugusan pulau di sebelah ujung selatan Argentina tahun 1982. Kasusnya memang mirip dengan Timor Timur. Argentina merasa gugusan pulau Malvinas (pulau yang diperebutkan) adalah milik Argentina, karena memang adanya di wilayah Argentina, bukan Inggris yang menyebutnya dengan Falkland. Nah, pemerintah RI menghimbau agar semua media massa dalam memberitakan perang tersebut, harus menulis Malvinas, bukan Falkland. Ini sebagai solidaritas untuk membela Argentina, karena selama ini negaranya Maradona selalu membela Indonesia dalam setiap forum internasional, dan orang Argentina memang menyebutnya dengan ‘Las Malvinas’. Akhirnya, semua orang Indonesia lebih mengenal kata Malvinas dan tak ada yang tahu apa itu Falkland. Sampai-sampai kata Malvinas di Indonesia mengalami pergeseran makna, sehingga menjadi slang untuk menyebut tempat-tempat pelacuran kelas murahan dengan kata mejadi Malpinas, dengan akronim yang bermacam-macam. Bahkan, di samping terminal bis Cililitan, Jakarta Timur ada kios bakso cukup besar dua lantai yang laku keras, dengan nama terpampang besar-besar, “BAKSO MALVINAS” Banyak sudah diberikan Indonesia untuk kemajuan Timor Timur dibanding Portugal. Ini diakui sendiri oleh pemegang tahta kerajaan Portugal, HRH Dom Duarte Pio, Duke of Braganza, yang datang dan melihat sendiri perkembangan wilayah itu, dibanding kekuasaan leluhurnya dulu. “Selama ini banyak elite politik membicarakan Timor Timur dari sudut kejelekan melulu, tidak pernah bicara apa yang diperbuat dan diperjuangkan Indonesia di sana”. Kerajaan Portugal menjadi republik tahun 1910 hingga kini. Andai masih berbentuk monarki, Dom Duarte adalah ahli warisnya yang berhak menjadi raja. Presiden Soeharto pernah membangun sebuah patung Jesus Kristus “Christo Rey”, yang terbesar di dunia setelah patung sejenis di Brasil. Patung ini diejek oleh orang yang anti integrasi Timor Timur sebagai bentuk propaganda untuk menyenangi rakyat Timor Timur. Bila masih sebagai wilayah Indonesia, mungkin unik juga di sebuah negeri berpenduduk muslim terbesar di jagat, terdapat patung Jesus terbesar nomor dua di jagat.
Sepuluh tahun lalu, wilayah Timor Timur lepas dari Indonesia setelah hasil jajak pendapat menyatakan sebagian besar rakyat di sana ingin merdeka dari Indonesia. Tidak ada rekapitulasi hitung ulang hasil jajak itu, seperti njelimetnya pemilu di Indonesia. Pokoknya yang menang yang pro merdeka. Titik. Diumumkannya pun di New York, AS, oleh Sekjen PBB. Bukan di Dili atau Jakarta. Dengan hasil itu, “anak yang hilang” pergi lagi meninggalkan rumah. Mungkin dia jenuh dan bosan. Kata orang tua, biarin aja anak pergi. Kalau kangen atau lapar, pasti pulang lagi. Jauh sebelum Portugal datang ke sini, wilayah Timor Timur sudah ada di Indonesia dan dimiliki oleh orang Indonesia. Bukan oleh mahluk dari manapun. Indonesia punya hak sejarah atas Timor Timur sampai kapanpun. Karena Timor Timur punya Indonesia. (*)
Terima kasih atas tulisan anda tentang Timor – Timur, Saya hanya membacanya sekilas, karena tulisan anda dan komentar anda tentang tim- tim sama dengan banyak orang – orang Indonesia lain yg tidak mau menerima kekalahan….
Pengumuman hasil jajak pendapatnya di Dili, pada tanggal 4 September 1999, seharusnya diumumkan pada tanggal 15 September 1999, akan tetapi karena dokumen TNI yang terkuak lewat intelijen Timor Leste yang bekerja pada Jenderal Wiranto tentang pembumi hangusan Timor – Timur layaknya Bandung Lautan APi, pemblokiran untuk menghalau pengungsi pro-kemerdekaan dan pembunuhan massal, maka pengumumanya dipercepat. Dokumen tentang pembumi hangusan dapat anda temukan di MUSEUM Timor Leste beserta foto – foto dan film dokumenter tentang Penganiyaan oleh TNI terhadap masyarakat SIPIL Timor – Timur…
thx.
————-
Maaf, saya orang Indonesia yang tidak seperti anda bilang: “tidak menerima kekalahan”. Makanya anda baca tulisan ini lebih lengkap. Selamat membaca.
Reply
IWAN SATYANEGARA KAMAH says:
7 March 2010 at 9:57 pm
Halo Om Maubere, masalahnya bukan menang atau kalah, tetapi fair dan tidak fair dari sudut pandang sejarah. Indonesia dan Timor Lesta adalah korban dari kekuatan jahat dan kekuatan setan dari barat, selama berabad-abad.
——————-
Ada benarnya juga….
Reply
Maubere says:
8 March 2010 at 10:04 am
Untuk Mas IWAN, saya sangat setuju dengan ide anda “Indonesia dan Timor Lesta adalah korban dari kekuatan jahat dan kekuatan setan dari barat, selama berabad-abad.” Saya tahu bahwa kita adlah korban, tetpai saya tidak dapat mempungkiri bahwa mayoritas rakyat Timor Leste masih membenci TNI, mayoritas rakyat Timor Leste memang lebih menyukai rakyat Indonesia karena sikap keramah-tamahan yang sama dengan orang – orang Timor Leste,,,akan tetapi kadang2 kalau meninggat2 lagi tentang Integrasi dan hal semacamnya ketika masih bersama dengan Indonesia..sungguh perasaan kami sama seperti perasaan orang – orang Indonesia yang pernah hidup dibawah PENJAJAHAN BELANDA dan JEPANG….
Terima kasih buat semuanya….
HASTA LA VITORIA SEMPRE…
Reply
suciptoardi says:
9 March 2010 at 1:51 am
Untuk Iwan dan MAurebe:
Saya lebih memilih kata yang lain, selain korban. Karena, bagi saya, kata korban mencerminkan atau mendekatkan kepada ketidakberdayaan dan kebodohan alias mudah terkena tipu muslihat. Saya lebih senang, melihat adanya “simbiosis mutualisme”. Tahun 1975, Indonesia dapat wilayah baru serta menjanjikan dengan hasil buminya, sedangkan Barat memenangkan pengaruhnya dengan menyingkirkan gerakan komunis yang seringkali membela rakyat dan semangat nasionalisme-kemerdekaan. Sedangkan tentang TNI yang tidak disukai oleh rakyat Timor Leste, anda tenang saja, pendapat anda banyak yang mengiyakan, lihat saja didaerah konflik seperti di Aceh, dan Papua. Rakyat di wilayah itu membencinya, tapi jangan lupa, banyak pula yang pro dengan TNI. Di Timor Leste bagian barat, selama tahunan, 1975-1999, banyak yang menyenangi TNI karena TNI-lah tempat berlindung mereka dari keganasan Fretelin, begitupula di Aceh dan Papua. Artinya, mari dilihat dari berbagai sisi. Bila anda dibawah TNI, merasa sengsara seperti Indonesia dijajah Belanda dan Jepang, anda juga harus jujur melengkapinya dengan betapa tertindasnya rakyat Timor Leste dibawah Portugal, bahkan sekitar 400 tahun. Di salah satu tulisan di blog ini berbunyi:
————————
KETIKA saya masih kuliah tahun 1990, beberapa teman saya yang mengambil jurusan ilmu antropologi ikut sebuah penelitian sosial ke Timor Timur. Ketika mereka selesai dan pulang, saya bertanya banyak tentang wilayah itu yang belum pernah saya kunjungi dan tidak banyak saya ketahui. Jawaban yang saya dengar cukup mengagetkan. Saya sulit percaya meski akhirnya saya bisa yakin tentang kesan teman-teman saya yang meneliti di Timor Timur.
“Jaman Portugis berkuasa, penduduk asli tidak boleh menginjak aspal jalan”, kata teman saya tentang keadaan saya. Artinya bukan karena aspalnya masih meleleh sehingga belum boleh diinjak atau digunakan. Tapi ini simbol diskriminasi yang artinya, Indonesia lebih baik dan lebih banyak memberikan sesuatu kepada rakyat Timor Timur, dibanding Portugal. “Lho? Indonesia ‘kan sudah membunuhi 200 ribu jiwa selama 27 tahun di wilayah itu?”, seperti gembar gembor yang selalu dihembus media barat yang anti Indonesia. Lalu berapa nyawa juga yang lenyap selama 400 tahun lebih kekuasaan Portugal di Timor Timur?” Silahkan ambil kalkulator dan buka-buka buku sejarah.
Selanjutnya di Wikipedia menyebutkan:
FRETILIN menurunkan bendera Portugal dan mendeklarasikan Timor Leste sebagai Republik Demokratik Timor Leste pada tanggal 28 November 1975. Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama 3 bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya wanita dan anak2 karena para suami mereka adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia). Tak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan FRETILIN yang berhaluan Komunis. Tiga Kuburan Masal sebagai bukti pembantaian FRETILIN terhadap pendukung integrasi terdapat di Kabupaten Aileu (bagian tengah Timor Leste), masing-masing terletak di daerah Saboria, Manutane dan Aisirimoun.
Ketika pasukan Indonesia mendarat di Timor Leste pada tanggal 7 Desember 1975, FRETILIN didampingi dengan ribuan rakyat mengungsi ke daerah pegunungan untuk untuk melawan tentara Indonesia. Lebih dari 200.000 orang dari penduduk ini kemudian mati di hutan karena pemboman dari udara oleh militer Indionesia serta ada yang mati karena penyakit dan kelaparan. Banyak juga yang mati di kota setelah menyerahkan diri ke tentara Indonesia, namun Tim Palang Merah International yang menangani orang-orang ini tidak mampu menyelamatkan semuanya.
Selain terjadinya korban penduduk sipil di hutan, terjadi juga pembantaian oleh kelompok radikal FRETILIN di hutan terhadap kelompok yang lebih moderat. Sehingga banyak juga tokoh-tokoh FRETILIN yang dibunuh oleh sesama FRETILIN selama di Hutan. Semua cerita ini dikisahkan kembali oleh orang-orang seperti Francisco Xavier do Amaral, Presiden Pertama Timor Lesta yang mendeklarasikan kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1975. Seandainya Jenderal Wiranto (pada waktu itu Letnan) tidak menyelamatkan Xavier di lubang tempat dia dipenjarakan oleh FRETILIN di hutan, maka mungkin Xavier tidak bisa lagi jadi Ketua Partai ASDT di Timor Leste Sekarang.
Selama perang saudara di Timor Leste dalam kurun waktu 3 bulan (September-November 1975) dan selama pendudukan Indonesia selama 24 tahun (1975-1999), lebih dari 200.000 orang dinyatakan meninggal (60.000 orang secara resmi mati di tangan FRETILN menurut laporan resmi PBB). Selebihnya mati ditangan Indonesia saat dan sesudah invasi dan adapula yang mati kelaparan atau penyakit. Hasil CAVR menyatakan 183.000 mati di tangan tentara Indonesia karena keracunan bahan kimia dari bom-bom napalm, serta mortir-mortir.
———————
Untuk Maurebe: Tulisan anda persis rakyat dan tentara Indonesia yang baru merdeka dari Belanda hingga tahun 1980-an, semua yang berbau “musuh” adalah buruk. Saya dapat memakluminya. Rasional sulit memunculkan wujudnya jika diselimuti emosional.
Sementara itu, dari penggalan sejarah, Indonesia dan Timor Leste memiliki coreng muka yang berbau kebengisan, baik itu untuk nasionalisme ataupun lainnya. Oleh karena itu, saya mengajak untuk seperti semangat blog ini: ….yang terpenting bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, tetapi juga adalah “bagaimana belajar dari sejarah”. Maka, maknai masa lalu untuk masa depan yang lebih baik lagi….”
Semoga kita dapat berbagi.
Historia Me Absolvera!!!!
Reply
maubere says:
8 March 2010 at 10:16 am
Mas dari dulu, Timor Leste bukan Indonesia, Portugal menginjak tanah Timor este pada tahun 1515, pada tahun 1522 Portugal kalah perang. Anda mengklaim Timor Timur merupakan kepunyaan Indonesia dari mana bung???? APakah dari jaman kesultanan TERNATE???? Kalau dari jaman kesultanan TERNATE apakah nama Indonesia atau negara Indonesia sudah ada, sehingga anda mengatakan bahwa Tim – Tim milik Indonesia???? Kalau memang anda menentukan Negara berdasarkan kesultanan Ternate maka ada baiknya anda mempertimbangkan juga wilayah2 di Indonesia yang dulunya tidak termasuk wilayah kesultanan Indonesia..mungkin juga Papua atau munkin juga Aceh….
Reply
suciptoardi says:
9 March 2010 at 1:34 am
—————————–
Untuk MAubere:
Saya kira pertanyaannya, adalah tepat bila dilayangkan ke penulisnya. Saya ijin copas, dan tentunya bukan tulisan saya. Namun, saya coba menjawabnya. Logika yang digunakan sejarah dan formal-legal dalam perjanjian Linggajati hingga KMB sebagai berikut: wilayah Indonesia adalah wilayah bekas jajahan Belanda, dan wilayah bekas jajahan Belanda adalah wilayah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang tunduk dengan suatu perjanjian.
Setelah Ternate lepas dari Portugal, sultannya pun tidak memikirkan keberadaan Timor Leste secara serius, mungkin tepatnya mulai menelantarkannya karena kurang strategis di jalur perdagangan dan politik. Timor Leste sejak lama “dianggap” sebagai “tanah tak bertuan”, disatu sisi ada pasukan Portugal yang bermukim di sekitar pantai, kerajaan lokal, dan pejabat kerajaan Ternate seperti yang penulis artikel ungkapkan (saya kurang yakin). Mereka bertiga tidak bertengkar, entah karena diikat perjanjian atau mengalami “stealmate” (baca: letih berperang, akhirnya memilih tidak mengusik satu sama lain). Namun demikian, secara formal, Belanda mengakui Portugal memiliki Timor Leste setelah diadakan perjanjian pada 1859 dengan Belanda. Dalam PD 2, Timor Leste dikuasai Jepang, selanjutnya diambil kembali oleh Portugal hingga tahun 1974. Tahun 1975-1999, Timor Leste bersama Indonesia, ada yang meyakini sebagai invasi, dan adapula integrasi.
Secara sederhana kronologis Timor Leste “milik siapa” adalah sebagai berikut:
1.) Sebelum kedatangan Portugal, Timor Leste berdiri sebagai negara merdeka dengan wujud kerajaan lokal (persis seperti sejarah di Indonesia, tapi masih butuh penelitian sejarah lebih rinci)
2.) Portugal menguasai pada pertengahan abad 16 hingga tahun 1942, dengan nama Timor Portugis.
3.) Jepang menguasai Timor Portugis, 1942-1945
4.) Portugal kembali menguasai Timor Portugis sejak tahun 1945
5.) Portugal mengeluarkan kebijakan dekolonisasi 1974, perang saudara antara Pro Integrasi dan Fretelin
6.) Indonesia menguasai Timor-Timur, 1975-1999
7.) Timor-Timur dibawah naungan PBB, 1999-2002
8.) Timor Leste resmi menjadi negara baru pada 20 Mei 2002. Hari yang sama diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia.
Selanjutnya tentang wilayah lain yang diyakini penulis artikel, termasuk kekuasaan Ternate yang bukan hanya Timor Leste, sudah jelas didalam perjanjian Saragosa antara Portugal dan Spanyol. Selebihnya sudah dikuasai Inggris, Belanda, dan Amerika. Aceh dan Papua, sudah jelas. Kedua wilayah ini adalah bekas jajahan Belanda, jadi milik Indonesia. Namun Timor Leste (Timor-timur), bukan milik Indonesia. Saya tidak merasa keberatan dengan perginya Timor Leste dari NKRI, karena memang itu yang seharusnya terjadi. Perang dingin sudah usai, ancaman komunis internasional telah tiada, maka keadaan harus kembali seperti semula.
Mari diskusi….
Reply
Maubere says:
9 March 2010 at 6:04 am
Saya sangat senang dengan postingan artikel anda, yang ingin saya luruskan adalah bahwa, anda memang benar “bahwa tulisan saya mirip” dengan para pejuang kemerdekaan Indoensia tehadap Belanda, emosi mereka masih kentara, pertanyaan saya mengapa mereka emosi??? mengapa mereka tidak suka dengan Belanda????” Kalau anda menjawab “YA” berarti anda tidak setuju dengan PENJAJAHAN.
DAlam tulisan saya, saya seringkali mencoba untuk emphaty dengan pejuang2 Indonesia dan kebenciaan mereka dengan Belanda, perasaaan dan semangat mereka mengusir belanda karena adanya suatu perasaan tidak ingin hidup dibawah suatu bentuk Penjajahan. Anda mengatakan bahwa seolah – olah Portugal sevagai penajajh di Timor Leste lebih bagus, mari kita melihat kepada negara – negara jajahan INGGRISS, salah satunya Malaysia, rakyat Malaysia senang dengan Inggriss sehingga menjadikan bahsa Inggriss sebagai bahasa Nasionalnya. Begitu juga dengan Timor Leste menjadikan bahasa Portugis sbg bahasa nasionalnya. Pada hakekatnya PENJAJAHAN memang sangat tdiak menyenangkan, akan tetapi seandainya penjajah tersebut meninggalkan wilayah jajahan tanpa menindas, membumi hanguskan, dan membunuh lagi pada akhir penjahanya maka mereka sangat dihormati, lihat saja MACAU jajahan Portugal yang diserahkan secara utuh kepada China, atau HONGKONG yang diserahkan secara utuh kepada CHINA oleh Inggriss, lantas dimata orang lain langkah yang diambil oleh kedua negara tsbt lebih manusiawi atau ditentang oleh dunia barat lainya???? Beda dengan Indonesia, ketika mereka terakhir kali meninggalkan Timor Leste, mereka membumi hanguskan segalanya, bahkan sapi dan kerbau piaraan para rakyat yang ditemukan di persawahaan ditembak mati juga,,,,apakah dunia internasional juga menyukai Indonesia atas peerbuatan2nya tsbt????
Saya rasa ada kekeliruan pada tulisan anda tentang kronologis (asal mula Timor Leste milik siapa):
“Portugal menguasai pada pertengahan abad 16 hingga tahun 1942, dengan nama Timor Portugis.” Portugal menginjak kaki pertama kali di Timor Leste adalah pada tahun 1515 dan langsung menjajahnya” kalau menurut anda pada tahun 1942 berarti sudah beda sekali…
Pada masa nenek moyang Timor, sudah memiliki dua kerajaan yaiu kerajaan WEHALE DAN WEBIKU. WEHALE di Timor – Timur dan WEBIKU di Timor Barat, jadi kalau menrut anda bahwa kerajaan Ternate menguasai Timor berarti seolah – olah Kerajaan WEHALE tidak ada….
Saya telah banyak membaca berbagai sejarah yang anda COPAS di tulisan anda,,,kebnayakan dari mereka memang benar namun ada banyak juga yang berbohong dan hanya sesuai dengan versi mereka.
Di Timor Leste pda tahun 1975 memang tidak ada komunis ataupun istilah lainya yang mengarah kepada KOMUNIS, FRETILIN bukan komunis. Indonesia menggunakan alasan KOMUNIS karena pada PD-2 terjadinya blok Timur dan Barat. Karena Soeharto telah mengulinkan SOEKARNO yang berpaham KOMUNIS dibantu oleh AMERIKA maka Indonesia juga menggunakan alat propaganda yang sama dan menuduh Timor Leste berpaham komunis, supaya dengan mudah dapat mencaplok wilayah Timor Leste. Lantas sampai detik ini TIDAK TERBUKTI bahwa KOMUNIS ada di Indonesia….jadi ada baiknya kita membaca sejarah yang benar -benar sejarah…
Thanks.
Reply
suciptoardi says:
10 March 2010 at 6:49 am
Untuk Maubere
Maret 9th, 2010 at 6:04 am :
Saya menghormati anda yang emosional tentang semangat kemerdekaan yang merasuki anda hingga saat ini. Kata anda: persis seperti pejuang Indonesia diawal kemerdekaan, karena sama benci oleh sebuah kata: PENJAJAHAN. Namun semangat demikian, seringkali kurang rasional. Saya termasuk orang yang tidak sepakat kepada sejarawan Indonesia yang hanya melihat satu sisi: Penjajah menghasilkan sesuatu yang negatif, buruk. Persis seperti anda dengan menganalogikan: “penjajah yang meninggalkan daerah jajahannya dengan pengrusakan adalah buruk” (baca: Indonesia di Tim-Tim), sebaliknya: “Penjajah yang meninggalkan daerah jajahannya dengan memberikannya kepada bangsa yang dijajah tanpa pengrusakan adalah baik, bahkan , meminjam istilah anda : “senang” (baca: Malaysia oleh Inggris, Macao Oleh Inggris, begitupula dengan Tim-tim oleh Portugal). Saya hargai perspektif anda ini. Silahkan dianut.
Selanjutnya, apa yang anda katakan keliru, silahkan temukan kekeliruannya dimana, dan segera paparkan yang anda anggap benar. Berikut tulisan anda tentang kekeliruan terkait:
Saya rasa ada kekeliruan pada tulisan anda tentang kronologis (asal mula Timor Leste milik siapa):
“Portugal menguasai pada pertengahan abad 16 hingga tahun 1942, dengan nama Timor Portugis.” Portugal menginjak kaki pertama kali di Timor Leste adalah pada tahun 1515 dan langsung menjajahnya” kalau menurut anda pada tahun 1942 berarti sudah beda sekali…
Pada masa nenek moyang Timor, sudah memiliki dua kerajaan yaiu kerajaan WEHALE DAN WEBIKU. WEHALE di Timor – Timur dan WEBIKU di Timor Barat, jadi kalau menrut anda bahwa kerajaan Ternate menguasai Timor berarti seolah – olah Kerajaan WEHALE tidak ada….
————-
Sebelum anda menjawab, saya jelaskan terlebih dahulu. Timor Portugis adalah sebutan wilayah Timor yang dijajah Portugal, dan merupakan kata yang diberikan situs WIKIPEDIA serta beberapa buku sejarah yang saya baca, sehingga saya menggunakan istilah demikian. Namun anda tidak memberikan pembahasan tentang kekeliruan yang anda tuduhkan itu. Malahan membahas ke masa nenek moyang dengan 2 kerajaannya, bukan memberikan penjelasan apa yang terjadi sejak abad 16 sampai 1942 menurut versi anda. Silahkan baca kembali jawaban saya diatas tulisan ini, ketahuilah tidak ada kalimat atau pernyataan dari saya bahwa kerajaan lokal Wehale dan Webiku dikuasai Ternate. Dengan demikian pendapat anda yang menyatakan: berarti seolah – olah Kerajaan WEHALE tidak ada, sudah jelas keliru.
Dari beberapa sumber, saya mencoba menjelaskan bahwa diTimor-Leste mengalami situasi sebelum Portugal mengusai secara utuh Timor Leste sebagai berikut: disatu sisi ada pasukan Portugal yang bermukim di sekitar pantai, kerajaan lokal, dan pejabat kerajaan Ternate seperti yang penulis artikel ungkapkan (saya kurang yakin). Mereka bertiga tidak bertengkar, entah karena diikat perjanjian atau mengalami “stealmate” (baca: letih berperang, akhirnya memilih tidak mengusik satu sama lain). Lanjutnya, saya menegaskanseperti ini:
Secara sederhana kronologis Timor Leste “milik siapa” adalah sebagai berikut:
1.) Sebelum kedatangan Portugal, Timor Leste berdiri sebagai negara merdeka dengan wujud kerajaan lokal (persis seperti sejarah di Indonesia, tapi masih butuh penelitian sejarah lebih rinci)
2.) Portugal menguasai pada pertengahan abad 16 hingga tahun 1942, dengan nama Timor Portugis.
Silahkan berikan klarifikasi…
Selanjutnya, saya ingin menyatakan bahwa anda keliru melihat sejarah Indonesia dengan menuliskan seperti ini:
Karena Soeharto telah mengulinkan SOEKARNO yang berpaham KOMUNIS dibantu oleh AMERIKA maka Indonesia juga menggunakan alat propaganda yang sama dan menuduh Timor Leste berpaham komunis, supaya dengan mudah dapat mencaplok wilayah Timor Leste. Lantas sampai detik ini TIDAK TERBUKTI bahwa KOMUNIS ada di Indonesia…
—————————————–
Berikut kekeliruan anda dan pelurusannya:
Pertama, Soekarno tidak berpaham komunis, namun nasionalis. Berbagai biografi Soekarno dan sejarah Indonesia yang ditulis oleh sejarawan, politikus, sosiolog, dan psikolog dari Indonesia dan luar negeri, tidak meyakini Soekarno adalah Komunis. Ketahuilah, Soekarno adalah pencinta paham utility/unitarian (persatuan), sehingga kekuatan besar yang mendukung Indonesia dan memperkuat negara di dunia Internasional, maka dirangkul Soekarno, bahkan untuk kasus PKI, partai ini menjadi anak emasnya, keadaan demikian, terkait erat masa perang dingin. Pernyataan anda yang menegaskan: Lantas sampai detik ini TIDAK TERBUKTI bahwa KOMUNIS ada di Indonesia, jelas sebuah pernyataan yang keliru, dan menyesatkan, baik itu untuk anda dan bagi kaum awam yang tidak pernah membaca sejarah Komunis di Indonesia ataupun dunia Internasional. Saya berikan contoh: Pemberontakan tahun 1948 dan 1965 di Indonesia, tercatat oleh dunia sebagai pemberontakan komunis yang gagal. Rusia dan Cina mengakuinya, kedua negara tersebut memiliki jaringan komunis sampai ke Indonesia.
Kedua, Indonesia tidak hanya dibantu Amerika ketika mencaplok Timor Portugis, akan tetapi beberapa negara membantunya, baik secara militer maupun diplomatik, misalnya Australia, serta negara ASEAN seperti Malaysia, Filipina, dan Singapura.
Ketiga, anda menyebutkan: Indonesia juga menggunakan alat propaganda yang sama dan menuduh Timor Leste berpaham komunis, supaya dengan mudah dapat mencaplok wilayah Timor Leste. Tanpa bermaksud menggurui, suatu kerajaan atau negara dapat menentukan kebijakan, apalagi bersifat segera dan internasional, selalu dipengaruhui faktor internal dan eksternal. Saya meyakini karena provokasi dan tekanan Autralia dan Amerika, dan Indonesia yang masih bersikap anti-komunis, sehingga hadirlah ketakutan akan munculnya negara komunis baru di Timor Portugis. Menurut pengamat PBB sebagai berikut: Indonesia yang baru pulih dari pemberontakan Gestapu/PKI dianggap oleh AS dan Australia sebagai bumper yang kuat untuk menghambat perkembangan komunis. Saat bergolaknya perang saudara di Timor Timur setelah minggatnya Portugal, kelompok Fretilin yang cenderung ke ideologi komunis, menguasai situasi di Timor Timur (http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=12177:timor-leste-bak-api-dalam-sekam&catid=16&Itemid=29). Selanjutnya, karena faksi-faksi di Timor Portugis ada pula yang tidak sepakat dengan deklarasi ala Fretelin, maka Indonesia “diundang” untuk datang ke Timor Portugis untuk mengalahkan Fretelin. Dengan demikian, harus ditambahkan, Indonesia masuk ke Timor Portugis, bukan hanya karena propaganda anti komunis yang ditujukan kepada Fretelin oleh Indonesia yang khawatir munculnya negara komunis baru di sekitarnya (dengan meminjam kalimat pengamat PBB bahwa Fretelin ialah kelompok yang cenderung ke ideologi komunis), akan tetapi karena “permintaan” Amerika dan Autralia, serta atas “permintaan” faksi yang pro-integrasi di Timor Portugis.
Keempat, kalimat anda menyatakan, menuduh Timor Leste berpaham komunis, supaya dengan mudah dapat mencaplok wilayah Timor Leste, sudah seharusnya direvisi, dan saya yakin, tahun 1975, tanpa propaganda komunis seperti yang anda maksudkan, TNI dapat dengan mudah masuk ke Timor Portugis karena kekuatan militer dan diplomasi internasional Indonesia ketika itu, tapi saya tidak setuju, mungkin karena saya tidak hidup pada jamannya, tidak merasakan “jiwa jaman”, dan tidak paham “historicalmindness” ketika Indonesia begitu trauma, bahkan benci dengan yang namanya komunis dan penjajahan. Namun kenyataan berbicara beda, Indonesia yang bertahun-tahun berjuang untuk kemerdekaan dengan melawan penjajahan, secara ironik, malah melakukan aksi yang bertentangan dengan semangat kemerdekaan. Ironik memang, namun mari tempatkan cara pandang, lagi-lagi “masukkan ke dalam konteksnya”, “jiwa jaman”, “historicalmindness” yang melingkupi aktor sejarah ketika itu. Tidak ada pola pembelaan, namun jangan sampai tercerabut dari orientasi historisnya.
Kelima, ajakan anda yang berbunyi: ada ada baiknya kita membaca sejarah yang benar-benar sejarah, saya berharap bukan sindiran yang emosional. Dengan demikian, saya menyambut baik. Dan ada baiknya pula, bukan hanya membaca buku sejarah bergenre “dongeng” yang berisi kisah heroik dan kehebatan dari satu sisi yang seringkali meta-subyektif serta menyingkirkan perspektif lain, namun dilengkapi buku sejarah “teori” yang tidak hanya berbicara dari berbagai sisi, namun dapat diakui dengan takaran keilmiahannya, dimana orang lain yang membaca tidak mencibirnya.
Terima kasih Maubere. Alangkah senangnya saya, bila nanti anda menjadi penulis sejarah Timor Leste yang baik, saya siap membantunya, minimal berdiskusi. Salam persahabatan dari saya yang WNI, untuk anda WNTT (Warga Negara Timor Leste) walaupun anda masih bermukim di Indonesia.
Historia Me Absolvera!!!!
Reply
Timor Oan says:
13 March 2010 at 12:21 pm
Sejarah akan tetap menjadi sejarah, dan masa depan akan menjadi sejarah juga tetapi dari sejarah kita belajar untuk mengisi dan menjalani masa sekarang dan masa depan.
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih yang banyak kepada anda karena telah menulis sejarah mengenai Timor Leste, tetapi sayang anda belum pernah mengunjungi Timor Leste.
Timor Leste adalah sebuah wilayah kecil yang unik dan banyak diperebutkan oleh negara yang sudah duluan merdeka dan memiliki mesin pembunuh untuk menguasainya namun usaha itu sia-sia dan sekarang menjadi negara baru yang memiliki kekuasan yang sama atas wilayahnya seperti juga negara lain disekitarnya termasuk indonesia yang pernah belajar menjadi pahlawan di negeri tersebut saya tidak menyebut indonesia menguasai wilayah tersebut karena keberadaan indonesia disana bukan untuk menguasai dan membangun tetapi melatih tentaranya disana untuk menjadi pembunuh.
Indonesia sebenarnya bisa merebut hati rakayat Timor Leste untuk tetap bergabung dengan indonesia, tetapi sayang 24 tahun indonesia membangun wilayah itu sia-sia karena indonesia membangun dengan bermuka dua, mengapa saya mengatakan demikian karena indonesia pandai bermain sandiwara dibanding Portugal atau Australia.
Saya sarankan untuk indonesia jangan pernah bermuka dua dalam menyelesaikan masalah OPM papua karena wilayah ini karakternya sama dengan Timor Leste.
Apapun yang telah terjadi di masa lalu biarlah menjadi sejarah tetapi kita patut bersyukur bahwa doa rakyat Timor Leste telah dikabulkan dalam Nama Sang Juru Selamat Manusia Satu-satunya Yesus Kristus sang imanuel semoga kedamaian dan keadilan menjadi istana negara Timor Leste dan pada akhir semua mata tertuju padanya.
harapanku kepada penulis kunjungi Timor Leste bole tinggal ditempat saya………….Terima kasih.
Reply
suciptoardi says:
22 March 2010 at 9:10 am
Kepada Timor Oan
Sebaiknya menggunakan nama asli agar kita dapat saling mengenal. Anda orang yang jumlahnya sedikit dari Timor Leste yang mau hilir-mudik di dunia maya. Saya berterima kasih, mudah2an kita dapat membangun persahabata baru.
Perlu saya klarifikasi kepada anda, bahwa apa yang ditulis dalam blog ini: bukanlah atas nama Indonesia, tapi pendapat pribadi seorang WNI. Boleh jadi, kebijakan Indonesia, tidak sesuai dengan prinsip saya. Namun demikian, saya berpendapat, ABRI yang dikirim di Timor Timor sejak 1974-1999, adalah dalam rangka menjalankan tugas. Kesadisan, pembunuhan, dan seterusnya, merupakan bagian dari sebuah amanat, bahkan perjuangan bagi seorang prajurit terhadap kesetiannya terhadap negara. Indonesia mungkin buruk di Timor Leste, namun jangan berfikir stereotip, bahwa warga negaranya sama dengan pemerintahannya. Kini, Indonesia sudah jauh berbeda, begitupula dengan warganya, bahkan ketika Xanana dipenjara di LP Cipinang, banyak Tapol WNI yang mendukung lepasnya Timor Timur dari Indonesia, dan kalau anda membaca sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia yang berubah menjadi people power tahun 1998, salah satu tuntutannya adalah: Referendum untuk Timor Timur. Negara anda berhutang pula dengan mahasiswa Indonesia.
Kalau anda anggap ABRI di Timor Timor melatih dirinya sebagai pembunuh, saya kira lebih dari itu, karena mereka sudah latihan jauh sebelum diterjunkan ke Timor Leste, di negara anda ABRI hanya mempraktikkannya. Indonesia bermuka dua?, silahkan klarifikasi pendapat anda. Menurut anda: OPM papua karena wilayah ini karakternya sama dengan Timor Leste. Silahkan jelaskan kepada saya.
Saya berharap, kebencian anda kepada ABRI dan pemerintahan Indonesia pada masa Orde Baru, jangan ditimpakan atau disamakan kepada seluruh WNI. Apakah anda mengetahuinya, kenapa ABRI diubah namanya menjadi TNI ?, selain karena desakan yang sifatnya ilmiah dan arus perubahan, tapi juga Indonesia merasa gerah dan malu atas “plesetan” dari gerakan mahasiswa tahun 1998 dengan mengartikan ABRI sebagai Aku Bunuh Rakyat Indonesia. Kami bukan rakyat yang setuju dengan militerisme yang dikembangkan Orde Baru sejak awal tahun 70-an. Dengan demikian, semoga kita dapat berdiskusi lebih lanjut, agar terjadi saling kesepahaman.
Jujur saja, saya kesulitan “mencari” orang Timor Leste yang berkelana didunia internet. Saya senang dapat menjalin persahabatan. Terima kasih atas tawaran anda untuk tinggal dirumah anda bila saya ke Timor Leste. BIsakan anda menuliskannya di blog ini?
Reply
Ekonomi Timor Leste (Undangan Diskusi di Blog Ini) « Historia Vitae Magistra, La Historia Me Absolvera !!! says:
10 March 2010 at 9:03 am
[...] awal antara saya dengan Maurebe. Beliau adalah WNTT (Warga Negara Timor Leste) yang telah melakukan diskusi hangat disalah satu tulisan dalam blog ini. Kami sepakat diskusi dengan tema tertentu. Atas dasar itulah, saya menyempatkan diri [...]
Reply
Timor says:
24 April 2010 at 12:52 pm
Saya kira kita harus jujur mengakui bahwa Indonesia telah banyak berbuat di Timtim, terlepas dari segala kekurangan yang ada. Kesalahan terbesar dari Indonesia adalah gagal mengambil hati rakyat Timtim karena ABRI saat itu lebih cenderung menggunakan pendekatan keamanan daripada pendekatan budaya.
Fretilin jelas KOMUNIS itu tidak bisa dibantah!!! Apa yang dilakukan oleh FRETILIN sejak bulan Oktober s/d Desember 1975 yaitu dengan menangkap, memenjarakan dan membunuh pengikut APODETI dan sebagian UDT adalah sejarah HITAM Timtim. Dan hingga saat ini sebagian besar rakyat Timtim yang berada di NTT masih mengenang peristiwa tersebut. Oleh karena itu kehadiran INdonesia pada bulan Desember 1975 berhasil mengakhiri TEROR FRETILLIN terhadap saudara2nya.
Reply
suciptoardi says:
27 April 2010 at 4:12 am
Saya senang ada yang mau bersikap jujur dalam melihat masa lalu Indonesia di Timor Timur….
Reply
joao says:
19 June 2010 at 6:12 am
Salam…
Dalam beberapa hal, saya setuju dengan anda. Namun, ada hanya sekedar klrifikasi saja, mengenai sepenggal kalimat anda “Kita harus jujur, betapa ABRI ketika itu melancarkan banyak aksi kekerasan yang mereka yakini sebagai “penuntasan tugas”, disisi lain, kita juga harus jujur Fretelin juga melakukan banyak aksi kekerasan bagi para pendukung pro-integrasi.” Karena menyangkut sejarah, maka sebaiknya info tentang suatu peristiwa sejarah yang ditulis disertai dengan keterangan yang jelas (minimal tanggal-bulan dan tahun kejadian). Tanpa sedikitpun maksud untuk membela Fretelin (semata-mata hanya untuk meluruskan sejarah) ya, Fretelin memang melakukan kekerasan terhadap sebagian warga Timor Lorosa’e namun bukan hanya bagi warga yang pro integrasi (partai apodeti dan partisannya), namun juga terhadap warga lain yang tidak menghendaki agar Timor Lorosa’e merdeka sepeninggal Portu, katakanlah kekerasan tersebut terjadi juga pada orang2 dari partai UDT, KOTTA dan Trbalhista. Namun perlu diketahui juga bahwa, kekerasan yang dilancarkan tersebut hanya pada bulan Oktober s/d Desember tahun 1975. setelah itu, yang terjadi hanyalah kontak senjata yang sering terjadi dengan ABRI (maklum, setelah resmi bergabung dgn Indonesia, maka Fretelin terus diburu ABRI karena merupakan pemberontak yang tetap ingin merdeka), BUKAN aksi kekerasan yang dilancarkan Fretelin bagi warga pro integrasi. Ketika peristiwa berdarah pada tanggal 12 Nov 1991 di Santa Cruz, Dili, Fretelin pun tidak membalasnya, semua tetap berdiam di hutan. Dan sampai hari2 menjelang dan pasca referendum pada bulan September, 1999, Fretelin juga tetap berdiam di hutan tanpa sedikitpun aksi balasan terhadap warga pro Indonesia. Kalo Anda mengatakan ‘ya’, tolong jelaskan kapan kejadiannya, dan sumbernya yang jelas…
Namun itulah perang, banyak hal di luar dugaan yang terjadi…Tak mengapa..
Sejujurnya, saya ikut prihatin ketika citra Indonesia di mata dunia menyangkut permasalahan Timor Lorosa’e, sebab itu bukanlah salah Indonesia, melainkan Amerika yang paling handal cuci tangan trus balik mengecam.
Apapun itu, Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan alam yang luar biasa!! Saya pribadi bangga pernah menjadi bagian dari Indonesia, kebanggan itu hingga kini masih saya rasakan…
Reply
suciptoardi says:
24 June 2010 at 11:01 am
Sekedar bahan informasi, silahkan klik alamat ini:
http://www.tni.mil.id/news.php?q=dtl&id=113012006110589
http://www.mail-archive.com/indoz-net
http://omahkucink.blogspot.com/2010/03/integrasi-timor-timur-dari-1976-sampai.html
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1999/02/01/NAS/mbm.19990201.NAS93394.id.html
http://frenndw.wordpress.com/2010/01/13/masalah-timor-timur-dan-politik-luar-negeri-ri/
http://blog.imanbrotoseno.com/?p=1136
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/10/20/0006.html
Reply
suciptoardi says:
24 June 2010 at 11:07 am
Catatan prajurit di Timor-Timur:
http://catatansangprajurit.blogspot.com/2009/12/pendaratan-di-kota-dilli-1975.html
Reply
suciptoardi says:
25 June 2010 at 9:41 am
lagi, tulisan tahun 1995:
http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1995/11/16/0008.html
Reply
IWAN SATYANEGARA KAMAH says:
26 April 2010 at 6:45 pm
Terima kasih banyak sahabat. Saya tak menyangka perdebatan akan sepanjang ini. Saya menulis artikel itu dari sudut pandang saya sebagai orang Indonesia. Adik ayah saya, wartawan Antara M.S. Kamah adalah saksi hidup peperangan yang mengerikan di sana. Dia banyak berteman dengan perwira TNI dan juga tokoh-tokoh Timor Timur disana. Jadi, sejarah Timor Timur adalah sejarah Indonesia. Indonesia punya hak sejarah atas Timor Timur. Ini tak bisa dipungkiri. Saya hanya menyuarakan ketidakadilan yang dilimpahkan ke Indonesia. Seolah-olah Portugal adalah pahlawan. Setahu saya Portugal adalah PENJAJAH dan tidak banyak membangun banyak bumi Loro Sae. plus membunuhi orang lokal. Indonesia juga menyakiti orang sana, tapi membangunnya.
Semoga kita bisa menutup lembaran hitam masa lalu dan melihat masa cerah. Timor Timur adalah sahabat rakyat Indonesia, bahkan saudara kandung yang senasib atas kekuatan setan dari barat: KOLONIALISME.
Reply
suciptoardi says:
29 April 2010 at 9:02 am
Saya setuju Mas Iwan, namun jangan ditutup rapat-rapat lembaran hitam tersebut. Biaralah jadi sejarah yang diharapkan mampu menyadarkan kita, bahwa kita adalah manusia yang terlihat manusiawi artinya bukan orang yang tanpa cacat bak pahlawan atau malaikat. Dengan demikian, kita masa kini diharapkan bertindak menjauhi kesalahan masa lalu tersebut….
Reply
woody says:
28 April 2010 at 4:35 pm
waaah saya pernah bertugas di sana…berangkat akhir 1997 kembali awal 1999…tepatnya di daerah buicaren-vique-que…kami menyatu dengan rakyat seperti saudara sendiri…kami sangat akrab dengan anak-anak timor….saking terkesannya anakku yang pertama keberi nama “owan hadomi” (anak tercinta)..dan kami tidak membunuh siapapun…tak ada alasan apapun antara kami dan rakyat untuk membunuh…timorku sayang..timorku yang hilang…
Reply
suciptoardi says:
30 April 2010 at 2:39 am
Andaikan Woody dapat bercerita banyak tentang tugasnya di Timor-Timor….
Reply
woody says:
9 May 2010 at 12:38 pm
waah sedikit yang bisa saya ingat..kami tergabung dalam satgas BTT (teritorial)…pos kami di pinggiran ujung kampung…sedikit banyak membantu masyarakat dalm teoriti kami..memberikan layanan pengobatan gratis….dalam pos kami disediakan 2 tenaga medic dari batalyon…dalam 1 hari terkadang ada masyarakat yg berobat..kadang jg ngga ada…tp rutin pasti ada saja yg berobat..kebanyakan hanya penyakit ringan2 saja..gatal-gatal diare…malaria..pusing2 dll…kemudian memberikan penyuluhan kesehatan dibantu ibu Kaur setempat…menerima undangan pernikahan..dansa-dansi…menghadiri belasungkawa…kerja bhakti mendirikan rumah penduduk….patroli wilayah….pam RPUdll..intinya kami hanya membina hubungan yang baik dengan penduduk dan mencoba turut andil untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya..selebihnya adalh kegiatan rutin survival kami…mencari kayu bakar…mencari sayur-mayur liar yang tumbuh disekitar hutan…ngangsu air di we motin…kadang untuk melepas kejenuhan pergi ke bukit fatometi berburu rusa…melepas malam dengan jaga serambi ditemani nyamuk..suara belalang dan gonggongan anjing….suasananya sangat tintrim sunyi dan mencekam (jngn pernah membayangkan sebuah kampung yg ada di jawa deh)…terkadang kami kedatangan pemuda setempat Nasu dkk..membawa gitar…gitaran semalaman dg lagu2 timor..seingat saya mas Nasu nih gape banget maen gitarnya…terkadang dari Koyon di taibesi mendatangkan layar tancap di pos kami…waah seru jadi hiburan penduduk semalaman..sambil main bola gelinding…seumur-umur aku ngga mau judi…waah dapt pengalaman main bola gelinding asyik juga….saat bola nangkring diangka 12 spontan mereka teriak “duabelas tengah malaaam”…atau saat di angka 5..”susi susantiii”…dsb….geli pokoknya…sekedar hiburan….pas hari natal tahun desember 1988 menjelang kami mau kembali…di pos kami mengadakan pesta kecil-kecilan walaupun kami semua muslim…masak & makan bareng-bareng dengan sebagian penduduk dipos…jd ingat adelino…dominggos…si moris kiak..mama metan..pak RT..pak lurah… Nasu dll..entah gimana sekarang nasibnya??
oh ya…beruntung bagi kami… mas dominggus(moris kiak) ni punya warung kelontong tempat kami belanja sabun..mie instan dsb…jd klo logistik telat kami pasti belanja kesitu…nah dia juga punya rusa jinak namanya si alex yg suka curi makanan kami..hahaha…aah dasar rusa..
yaah itu saja yang sedikit bisa saya ingat….kami lebih enak ketimbang bapak-bapak satgas dari Zeni..yang saya tahu mereka seharian bekerja membuat jalan dan infrastruktur lainnya..tiada hari libur….
salam hormat kami kepada masayarakat Indonesia yang respect terhadap perjuangan kami…salam hormat kepada seluruh veteran….salam hormat kepada seluruh martir dari semua pejuang integrasi maupun yg kontra….salam hormat kepada seluruh janda-janda pejuang……semoga pengorbanan kalian tidak sia-sia….semoga Allah mencatat pengabdian kalian sebagai amal baik..amiin….
Cerita yang menarik, jauh berbeda dari yang saya baca. Terima kasih atas kisahnya, dapat membantu saya dalam memahami sejarah Tim-lest…
Reply
woody says:
28 April 2010 at 4:39 pm
setelah berpisah saya berharap semoga timor-timur semakin maju dan mandiri & tetap menjaga persahabatan & persaudaraan dengan indonesia…..menjadi 2 bangsa yang maju….
Reply
suciptoardi says:
30 April 2010 at 2:50 am
Saya lebih senang, untuk optimis bahwa Indonesia lebih maju dari pada Timor Leste, dan saling menjaga perdamaian…
Reply
woody says:
9 May 2010 at 12:49 pm
saya juga mempunyai persepsi demikian…kelak kita akan menjadi macan Asia yg sebenar-benarnya…pendapat saya pribadi..musuh kita yg sebenarnya adalah yang mengaku-aku sebagai saudara serumpun dari utara…mari kita mewaspadai itu….
Reply
IWAN SATYANEGARA KAMAH says:
7 May 2010 at 11:19 pm
Timor Leste harus dibantu dan didekati kembali oleh Indonesia. Waktu akan membuktikan, kelak rakyat Timor Leste akan lebih dekat dengan orangs Indonesia bahkan akan menyatu seperti satu negara, meski berbeda paspor. Kita hanya dibentuk oleh sebuah pola pikir yang membatasi kita dengan yang namanya batas negara. Persaudaraan dan kemanusiaan tidak mengenal batas negara. Itu hanya bahasa hukum. Semoga Timor Leste terus maju mendapat hak-hak dasarnya sebagai sebuah bangsa baru.
Reply
suciptoardi says:
11 May 2010 at 6:38 am
Let history spoken….
Reply
Hugo Moniz says:
18 May 2010 at 4:59 am
Timor Leste milik kami sendiri ( Rakyat TIMOR ) bukan punya indonesia, portugal atau yang lainnya…… sebab kami merdeka dengan tumpah dara sendiri oleh perjuangan kami… Viva Lorosae e povo maubere….
Reply
suciptoardi says:
18 May 2010 at 10:52 am
oke dech…
Reply
leon says:
11 June 2010 at 12:16 pm
bung…kalian sendiri yang ingin bergabung dengan indonesia setelah indonesia membantu pembebasan timor timur dari portugal. baca dibuku sejarah manapun begitu adanya. dan itu fair(fear) tanpa pemaksaan,bearti tidak ada yang merasa terjajah atau dijajah. lantas jika tidak ada penjajahan rakyat anda berteriak medeka,merdeka dari siapa,merdeka dari apa merdeka dari penjajahan yang tidak ada? apa itu bisa dikatakan normal? jujur jika saya jadi presiden pada saat itu saya tidak akan menggabungkan anda kedalam wilayah indonesia melainkan rasa terima kasih yang kalian haturkan saya syaratkan dalam bentuk lain (dengan menggunakan mata uang RUPIAH}
Reply
suciptoardi says:
12 June 2010 at 2:10 am
lanjooot gan…..
Reply
rangga says:
3 June 2010 at 8:11 am
yowis…pek’en kabeh…
Reply
suciptoardi says:
3 June 2010 at 11:08 am
okay…
Reply
Joao says:
7 June 2010 at 8:35 am
Sebagai orang Timor Lorosa’e, saya sangat berterima kasih atas tulisan di blog ini yang banyak memberikan info tentang sejarah kelam Timor Lorosa’e, thanks alot..!! Namun sekiranya, pelurusana sejarah tersebut tidak hanya ditulis berdasarkan opini dari hasil membaca buku dan artikel2 yang ada di internet, serta cerita yang didapat dari orang2 yang pernah berada di sana. Alangkah baiknya jika tulisan ini juga bersumber dari hasil wawancara langsung dengan para saksi hidup yang menjadi korban peperangan, yang dengan kedua mata menyaksikan pembantaian atas orang tua mereka, sanak saudara dan teman2 dengan cara sangat keji oleh milisi – milisi pro integrasi/pro Indonesia (warga asli Timor Lorosa’e yang buta huruf dan miskin) bentukan TNI pada waktu itu (masa pembumi hangusan Timor – Timur, 1999). Memang mudah untuk memisahkan rasional dan emosional bagi orang yang tidak langsung mengalami peristiwa pahit tersebut. Tapi saya setuju jika hal itu sudah menyangkut proses pelurusan sejarah, maka semuanya harus ditinjau dari berbagai sisi.
Namun, apapun itu, Timor Lorosa’e TETAPLAH Timor Lorosa’e yang memperoleh kemerdekaannya melalui bantuan Tuhan dan perjuangan yang bersimbah darah…
dan satu lagi, FRETELIN adalah GERILYAWAN DEMOKRAT dan BUKAN KOMUNIS!!! FRETELIN memang melakukan kesalahan pada waktu itu, tapi bukan karena FRETELIN adlah KOMUNIS, tetapi karena situasi politik pada waktu itu yang mengakibatkan mereka bertindak seperti itu!!!
Salam…
Reply
suciptoardi says:
7 June 2010 at 9:55 am
Kepada Joao.
Bagi saya yang terpenting adalah belajar dari sejarah, bukan hanya belajar sejarah. Artinya, masa lalu dijadikan acuan untuk bertindak hari ini dan masa depan. Pelurusan sejarah, bukan berarti membuat cerita baru yang kemudian menyalahkan yang lalu. Pelurusan sejarah selalu “tidak adil”, baik itu bagi sejarawan, terlebih para pelaku, termasuk “korban sejarah”. Oleh karena itu, berharap sejarah yang lurus ditulis dari berbagai pihak adalah amat sulit, bila tak mau dibilang: mustahil. Sederhana alasannya: emosi dan jiwa jaman sang penutur dan penulis sejarah. Sumber tutur dan tulis tak bisa diubah, tapi akan “hidup” karena “dipoles” dalam karya sejarahnya (manusia) yang memiliki emosi serta jiwa jaman yang melingkupinya.
Sebelumnya, senang kenal dengan anda yang memiliki nasionalisme cukup baik. Biasanya, WN Timor Leste yang mampir di blog saya, terkadang hanya sebentar, setelah itu hilang, padahal saya gemar membicarakan tentang negara anda (yang juga bagian integral dari sejarah Indonesia). Senang rasanya anda dapat terus berkomunikasi dengan saya.
Menyoal Fretelin sebagai komunis, itulah data yang saya dapat, baik itu dari versi Indonesia ataupun luar negeri. Alasan yang diungkapkan ialah, bahwa penggagas-pelaksana Fretelin beraliran komunis dan cara-cara yang dilakukan pada masa lalu, diyakini lazim sebagai komunis. Saya tidak mempermasalahkannya, komunis atau tidak, bisa jadi masalah tafsir sejarah. Kini, fretelin berkuasa di Timor Leste, boleh “sejarah pembersihan diri” lazim dilakukan rezim baru, banyak terjadi di negara-negara di dunia lho, walaupun saya tidak menuding khusus untuk Fretelin di Timor Leste.
Semoga tafsir yang berbeda dapat memeperluas cakrawala kita, oke Joao?. Sudikan tetap kita ngobrol?. Semoga kita dapat menjalin persahabatan.
Reply
Joao says:
7 June 2010 at 9:00 am
To Iwan:
saya tidak setuju dengan pernyataan anda bahwa secara historis Indonesia berhak atas Timor Lorosa’e karena “Sejak 17 Agustus 1945, semua kerajaan yang ada di nusantara melebur menjadi sebuah negara baru. Artinya, negara baru inilah yang menjadi pemilik sah Timor Timur. Menurut Sultan Moedaffar, Indonesia seharusnya mengklaim Timor Timur berdasarkan pada historisch recht atau ketentuan yang didasarkan fakta sejarah”. Jika begitu adanya, mengapa Indonesia tidak sekalian mengklaim Filipina sebagai wilayah kekuasaannya yang baru juga??? Bukankah Filipina merupakan salah satu wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate???
Reply
suciptoardi says:
7 June 2010 at 10:07 am
to Joao: Kita tunggu jawaban Iwan ya…
…akan tetapi, saya mau merespon pertanyaan anda untuk Iwan: “Jika begitu adanya, mengapa Indonesia tidak sekalian mengklaim Filipina sebagai wilayah kekuasaannya yang baru juga??? Bukankah Filipina merupakan salah satu wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate???”
Dibawah Soekarno dan kaum nasionalis, kami telah mengakui/klaim bahwa Indonesia adalah Nusantara, tepatnya dalam rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Nusantara adalah bekas wilayah kerajaan majapahit, yang meliputi Indonesia hari ini, plus malaysia, singapura, dan filipina. Karena pejajahan eropa, dan ketika itu yang berkuasa eropa, maka wilayah Indonesia sesuai dengan sang penjajahnya (belanda yang menguasai dari sabang-merauke). Filipina dijajah Amerika, Malaysia dijajah Inggris, dan pada 17 agustus 1945, kedua wilayah tersebut serta timor-timor (portugal) tidak masuk RI.
Saya sendiri, tidak sepakat Timor-timor masuk Indonesia, walaupun saya coba memahami jiwa jaman pada media tahun 1974-1975 lalu. Kita sederajat sebagai bangsa yang merdeka, dan saling menghormati sebagai manusia.
Mari dialog…
Reply
Joao says:
7 June 2010 at 8:40 pm
Salam kenal juga…
Saya sungguh senang dengan balasannya…Menurut Saya, Anda adalah seorang WNI yang baik, yang mampu menempatkan diri dan tulisan Anda dengan wawasan sejarah yang baik, hanya pada poros sejarah semata, tanpa memihak A atau B…
oya, sedikit mengklarifikasi pernyataan balasan Anda (“Oleh karena itu, berharap sejarah yang lurus ditulis dari berbagai pihak adalah amat sulit, bila tak mau dibilang: mustahil”). Sebenarnya yang saya maksudkan (…”Alangkah baiknya jika tulisan ini juga bersumber dari hasil wawancara langsung dengan para saksi hidup yang menjadi korban peperangan. …Tapi saya setuju jika hal itu sudah menyangkut proses pelurusan sejarah, maka semuanya harus ditinjau dari berbagai sisi”) bukan berati proses pelurusan sejarah harus ditulis oleh berbagai pihak, karena itu memanglah hal yang sulit, namun yang Saya maksudkan adalah “lebih baik lagi jika proses pelurusan sejarah tersebut didokumentasikan dengan mengumpulkan informasi yang real dari berbagai sumber, baik itu dari buku, internet, wawancara dengan para pelaku sejarah dan para saksi sejarah, atau bisa juga dengan tinggal untuk sementara waktu di tempat dimana pernah berlangsungnya peristiwa sejarah itu sendiri. Sebab, suasana atau keadaan pada wilayah terjadinya suatu peristiwa akan sangat membantu ketika kita hendak menulis sesuatu tentang apa (peristiwa sejarah) yang sebetulnya pernah terjadi di sana. Karena pada wilayah tersebut, tentulah kita akan mendapat lebih banyak bukti2 fisik yang lebih akurat yang bisa ditelusuri asal-usulnya sebagai bahan untuk menganalisa lebih lanjut peristiwa sejarah yang sebenarnya sebelum kita membuat suatu tulisan, apalagi menyangkut sejarah” Sampai saat ini, di Timor Lorosa’e masih terdapat beberapa tempat yang belum dipugar pasca peristiwa berdarah tahun 1999 yang dengan jelas mengisahkan apa yang sebenarnya terjadi di bumi Lorosa’e pada waktu itu.
Mohon maaf!! jikalau struktur kalimat saya dalam berbahasa Indonesia kurang baik, harap dimaklumi!! ^_^…Terima Kasih untuk blog ini…
Salam persahabatan…
Reply
suciptoardi says:
8 June 2010 at 2:05 am
Salam persahabatan juga. Saya tidak merasa janggal dengan bahasa Indonesia yang anda tuliskan, bila anda ingin menulis menggunakan bahasa Inggris, silahkan saja. Saya coba memahaminya.
Mr.Joao, peristiwa yang baru saja berlalu, jarang sekali dituliskan sebagai kisah sejarah (produk sejarawan), yang ada seringkalai ialah kisah sejarah (produk politikus atau memoar militer). Sejarawan kampus seringkali meninggalkan kekinian, dan memilih masa yang jauh dari hidupnya. Menurut saya, peristiwa berdarah 1999, tergolong sebagai sejarah kontemporer, dimana kepentingan, emosional, dan ketakutan mengungkapkan kebenaran menjadi “raja”. “Kekuatan” penguasa dan kedekatan emosional terhadap peritiwa seringkali menjebak para penutur dan penulis dalam memproduksi kisah sejarah. It’s normal.
Film Balibo 5 adalah salah satu contohnya dan juga telah menjadi (mendekati) harapan anda: ”….bersumber dari hasil wawancara langsung dengan para saksi hidup yang menjadi korban peperangan. …Tapi saya setuju jika hal itu sudah menyangkut proses pelurusan sejarah, maka semuanya harus ditinjau dari berbagai sisi”. DI salahsatu sisi, bagi saya, ada benarnya. Kita harus jujur, betapa ABRI ketika itu melancarkan banyak aksi kekerasan yang mereka yakini sebagai “penuntasan tugas”, disisi lain, kita juga harus jujur Fretelin juga melakukan banyak aksi kekerasan bagi para pendukung pro-integrasi. Ini salah satu pilihan, bilaman kita mau jujur demi meluruskan sejarah, yang tidak enak sekalipun harus ditampilkan.
Saya merasa kenyang menyaksikan, betapa bangsa Indonesia terlihat buruk di mata dunia, baik pada bagian pelanggaran HAM, khususnya Pasukan Khusus Indonesia (Kopassus) ataupun budaya korupsi. Saya merasa miris, betapa banyak bangsa yang selalu “menceritakan” keburukan ABRI ketika bertugas di Timor-Timor, Aceh, dan Papua. Bagi saya, itulah dampak rasional yang harus dihadapi. Namun diluar itu, saya juga harus jujur bahwa NKRI dipilih dunia sebagai personil penjaga perdamaian diberbagai wilayah konflik, masuk dalam dewan keamanan PBB, dan mengetuai komisi HAM Internasional di PBB, belum lagi terhitung, Indonesia seringkali menjuarai olimpiade kimia, fisika, biologi, matematika, komputer, dan penelitian di tingkat dunia. Dan, Kopassus sebagai pasukan elit negara no. 3 terbaik dunia setelah SAS (Inggris), dan Mossasd (Israel).
Kita harus jujur, kini TNI sudah berubah, saya yakin Fretelin-pun demikian (menjelmakan diri dengan wujud baru dalam dunia kepemimpinan sipil di Timor Leste sekarang). Keduanya menuju pada segmen: profesionalisme, bahkan, khususnya TNI, dalam salah satu materi dasar dan utama dalam pembentukan pribadi tentara adalah Pemahaman HAM.
Reformasi telah merubah wajah Indonesia di segala lini dengan perlahan namun pasti. Perubahan ini, jauh berbeda seperti di jaman Suharto, sehingga reformsi membawa harapan dunia baru. Buktinya, berbagai kasus terselesaikan, Tapol dibebeaskan, Aceh damai, Papua terima Otonomi Khusus, dan Timor-Timor Referendum. Untuk yang terakhir, Xanana dan kawan-kawan patut berterima kasih kepada mahasiswa Indonesia karena gerakan reformasi 1998 mengusung tuntutan Referendum bagi Timor-Timur (dan dikabulkan Presiden B.J. Habibi).
Salam persahabatan, semoga kita dalam menjalinya dengan baik…
Reply
anza says:
11 June 2010 at 9:48 am
saya sih gampangnya gini, bukankah kemerdekaan timtim berarti terbelahnya persaudaraan? bayangkan satu pulau, dulunya satu kerajaan.. trus oleh penjajah dibagi2 (kayak kue) satu milik belanda satu milik portugis.. trus awalnya bersatu sekarang berpisah lagi gara2 elitnya merasa lebih portugis?
memangnya segitu bangganya dijajah portugis? kalo ngomong TNI represif, bung jaman suharto bukan hanya anda aja… rezim yang didukung bahkan dianggkat oleh US memang represif.. tidak hanya tim tim.. pembunuhan dimana2… makanya digulingkan.. kalo kami di jawa senang2 saja tentu tidak akan menggulingkan suharto,,,
kenyataannya suharto ke TIMTIM atas permintaan US dan Australia biar tidak ada lagi negara SEA yang jadi komunis setelah vietnam… ngapain jajah timtim? tidak ada keuntungan ekonomi ada juga jadi anak emas orde baru, 6 triliun rupiah digelontorkan dari uang pajak kami…
elit2 berdarah portugis yang merasa lebih tinggi, lalu kepentingan australia untuk buka minyak di celah timor mementingkan kepentingannya sendiri…
sayang sudah terpecah.. coba kalo indo jahat.. tutup suplai minyak, listrik dan kebutuhan pokok.. hancur tuh negara…
Reply
suciptoardi says:
12 June 2010 at 2:24 am
tajemmm…merah deh kuping dan telinga orang timor leste….
Reply
seraq says:
28 June 2010 at 9:56 am
ternyata saudara saudara yang disini sangat peka terhadap persoalan 2 negara dan beberapa negara yang dianggap ikut campur, sebnarnya jika dikatakan bahwa timor-timur milik indonesia rasanya kurang pas dan sangat jauh dari pemikiran yang lebih konkrit dibandingkan sejarah mengenai sultan ternate, begini sebelum bangsa-bangsa portugues menginjakan kakinya di timor leste, masyarakat timor leste sendiri sudah memiliki sistemnya sendiri yang dikenal dengan sistem kasta yang dimana seorang liurai yang memrintahkan masing-masing daerahnya dengan secara langsung sudah ada sistem yang mengatur masyarakat setempat artinya bukan hanya karena ada nya pemerintahan portugues yang mengajarkan atau mengarahkan mengenai cara beprilaku atau mengenai hal lain, masyarakat timor leste dulu memiliki adat istiadat sendiri yang memang sudah ada dan masih dipertahankan saat ini.masyarakat timor-leste sendiri pernah melakukan perlawanan terhadap bangsa portugues untuk beberapa lamanya namun dikarenakan bangsa portugues mendatangkan seorang pastor yang kemudian menyebarkan agama setidaknya me
RSS feed for comments to this post