Xanana Ingin Terapkan Pendekatan Budaya di Perbatasan
Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao ingin memantapkan hubungan Timor Leste-Indonesia dalam bidang sosial dan budaya, terutama melalui kabupaten-kabupaten di wilayah perbatasan kedua negara.
Bupati Belu Joakim Lopes, ketika dihubungi, Rabu (18/8) mengatakan, pemantapan hubungan itu dipandang penting oleh Timor Leste, karena warga di wilayah perbatasan kedua negara ini masih memiliki hubungan persaudaraan karena kawin-mawin dan kesamaan budaya.
Lopes mengatakan hal itu seusai memimpin pertemuan antara Muspida Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara bersama Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao di Atambua, Rabu.
Ia mengatakan, dalam pertemuan itu Xanana meminta hubungan persaudaraan yang telah lama terjalin dan kesamaan budaya yang dimiliki warga, tidak diabaikan begitu saja karena perbedaan politik. Kesamaan budaya menjadi faktor penentu ketika kedua negara akan menjalin hubungan atau menyelesaikan berbagai bentuk kesalahpahaman.
Xanana menyebutkan, pemantapan yang diinginkan antara lain ketika kelalaian warga membawa kartu identitas saat melintasi wilayah perbatasan atau karena ketidaktahuan warga akan garis batas yang telah ditetapkan bersama dan melanggar, perlu diselesaikan secara kekeluargaan dengan tetap merujuk pada kesamaan-kesamaan yang telah ada sebelumnya.
Demikian pula, tindakan keliru warga yang akibat tuntutan kebutuhan dan ekonomi, warga terpaksa mengambil jalan pintas melewati jalur tidak resmi pun, penyelesaiaannya harus lebih mengedepankan simpul-simpul sosial budaya, sebelum menerapkan peraturan yang mengikat para pihak.
"Ini tidak berarti saya menyuruh orang untuk melintasi batas tanpa paspor atau pas lintas batas atau menyuruh warga terus melintasi jalan-jalan tikus untuk berdagang. Sama sekali tidak dan sekali lagi tidak ada pemikiran seperti itu," katanya.
Tetapi kalau saja hal itu harus terjadi dan ditangkap aparat keamanan di perbatasan, maka solusi pertamanya adalah pendekatan persuasif dengan kekayaan budaya dan sosial yang ada dan berkembang saat ini, katanya.
Karena itu, lanjut Xanana, aspek sosial budaya yang telah ada itu, perlu dipertahanakan dan dimantapkan pada setiap kesempatan, termasuk kedantanganya ke Atambua selama dua hari (Rabu dan Kamis) dalam perjalanannnya dari Oecusse menuju Ibu Kota Timor Leste, Dili.
Untuk maksud tersebut, sambung Lopes, Xanana meminta semua pihak yang ada di Indonesia, terutama di wilayah perbatasan untuk berpikir positif terkait dengan perjalanannya menyinggahi Atambua. "Ini kunjungan persabahatan dan kekeluargaan, sehingga tidak salah kalau saya minta izin untuk menginap satu malam, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Dili, Timor Leste," kata Lopes, mengutip Xanana.
Xanana, kata Lopes, sulit untuk mengabaikan aspek sosial dan budaya warga perbatasan yang ada di Belu dan Timor Tengah Utara yang sudah terbina selama puluhan tahun dan saat ini dipisahkan hanya oleh batas ngarai dan selokan dan atau kali kering.
Menurut Lopes, Rabu malam Xanana dijamu makan malam bersama. Setelah itu, menyaksikan atraksi budaya, sebagai tanda mempererat hubungan persaudaraan dan persahabatan kedua negara melalui simpul-simpul pemerintahan di wilayah perbatasan. (Ant/OL-8)
Sumber: Media Indonesia



